This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Showing posts with label Dunia Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Dunia Sejarah. Show all posts

Sunday, October 23, 2011

Reruntuhan Anasazi, Situs Peninggalan kuno di Amerika

Reruntuhan Anasazi, Situs Peninggalan kuno di Amerika

http://www.crystalinks.com/anasazinicole.jpg


Suku Anasazi Pueblo adalah orang dengan kebudayaan kuno asli Amerika yang diyakini hidup pada abad 12 SM. Orang kuno ini dikenal dengan Rumah Pueblo nya yang sangat mengesankan, terbuat dari lumpur, batu, atau dipahat ke dinding ngarai, yang sekarang disebut Reruntuhan Anasazi.

Reruntuhan ini dapat ditemukan di banyak situs di Southwest Amerika, termasuk Mesa Verde National Park,Monumen Nasional Canyon de Chelly , Dark Canyon Wilderness, dan situs lainnya yang didominasi terletak di negara bagian Colorado, Arizona, dan Utah.



Semua reruntuhan ini adalah tempat yang sakral dan harus diperlakukan dengan hormat ketika dikunjungi karena diyakini merupakan tempat leluhur suku kuno ini bersemayam
Berikut saya tambahkan Gambar-gambar Rumah pueblo yang unik :
Spoiler for Pueblo House in Mesa Verde National Park, Colorado:

Spoiler for Pueblo House in Mesa Verde National Park, Colorado 2:

Spoiler for Pueblo House in Mesa Verde National Park, Colorado 3:

Spoiler for Pueblo House in Mesa Verde National Park, Colorado 4:


Spoiler for The pueblo Spruce Tree House in Mesa Verde National Park, Colorado 5:

Spoiler for Pueblo House 1:

Spoiler for Pueblo House 2:

Spoiler for Pueblo House 3:

Spoiler for Pueblo House Utah:

Spoiler for Anasazi Great House of Bluff, Utah:





sumber :http://www.kaskus.us/showthread.php?t=10991908

Saturday, October 22, 2011

Concordia, Stasiun Penelitian yg Terletak di Ujung Dunia

Concordia Research Station at Dome C, Antartica


Stasiun Penelitian Concordia dibuka tahun 2005, merupakan fasilitas penelitian di bidang astronomi, dibangun di ketinggian 3.233 meter diatas permukaan laut di lokasi yg disebut Dome C di dataran tinggi Antartika. Terletak 1.100km jauhnya dari stasiun penelitian Prancis, Dumont D'Urville,1.100km dari Australia Casey, 1.200km dari stasiun Zucchelli Italia di Terra Nova Bay, dan Rusia Vostok sejauh 560km. Cuma ada 3 stasiun penelitian yg beroperasi 1 tahun penuh di tempat paling ekstrim di dunia ini, yaitu Vostok milik Rusia, Amundsen-Scott milik Amerika Serikat di kutub selatan, dan Concordia. Concordia sendiri adalah stasiun penelitian yg di bangun atas kerjasama Prancis dan Italia.

Antartica



Code:
Koordinat: 90 derajata bujur Selatan, 0 derajat bujur utara
Ketinggian: 3.233 m / 10.607 kaki diatas permukaan laut
Suhu: -25 derajat saat musim panas, -80 derajat musim dingin
Luas Area:
14,000,000 km2 (5,400,000 sq mi)[1]
280,000 km2 (100,000 sq mi)
13,720,000 km2 (5,300,000 sq mi)
Peta Dunia





Dengan letaknya yg ada di ujung dunia, tempat ini adalah salah satu tempat terdingin di dunia, temperaturnya mencapai -25 derajat celcius di musim panas dan -80 derajat celcius di musim dingin. Tanpa ada tanda kehidupan manusia dan sumber air.


Kenapa di Antartica?

Karena Stasiun Concordia telah diidentifikasi sebelumnya sebagai lokasi yang cocok untuk pengamatan astronomi yang sangat akurat, langit di Antartika yg bersih memudahkan untuk mengamati bintang bahkan wktu matahari pd sudut elevasi 38 derajat ( yg artinya saat itu cahaya dilangit akan sangat menyilaukan bagi teleskop yg ada di darat - red) keuntungan lainnya adalah presentasi debu atmosfer yg rendah, emisi yg ada di udara yg menyebabkan efek infra merah di teleskop jg sgt rendah, dan jarang adanya awan.


Peta Interior Concordia




Sekilas Tentang Sejarah Concordia



Pada tahun 1992, Prancis memutuskan untuk membangun stasiun baru di dataran tinggi Antartika, program ini kemudian diikuti oleh Italia. Pada tahun 1996, tim peneliti Astronomi Prancis & Italia mendirikan sebuah tenda di Dome C, tenda logistik dan tenda untuk penelitian proyek Eropa Ice Coring di Antartika. Disinilah Concordia dibangun dan mulai beroperasi Februari 2005 dengan hanya 13 staff peneliti.
Quote:
Akses Menuju Concordia

Satu”nya cara memindahkan barang dan alat penelitian ke Concordia adalah dgn pesawat kargo, berangkat melalui stasiun Dumont d’Urville dgn jarak 1.200 km yg ditempuh dalam 7-12 hari tergantung kondisi cuaca. Sedangkan untuk para peneliti dan barang bawaan yg ringan menggunakan pesawat Twin Otter dari DDU (Dumont d’Urville – red) atau stasiun Mario Zuchelli.
Spoiler for Transportasi Concordia:


Spoiler for Transportasi Concordia:

http://cdn-u.kaskus.us/31/2pa4h9i7.jpg





sumber : http://www.kaskus.us/showthread.php?t=7340537

Wednesday, October 19, 2011

Bing Slamet Sang Pahlawan Kebudayaan

BING SLAMET SANG PAHLAWAN KEBUDAYAAN (1927 - 1974)



PENGANTAR

Sebagian orang Indonesia mungkin lebih mengenal sosok Benyamin S, atau Titiek Puspa sebagai artis tempo dulu yang merintis dunia keartisan di Indonesia. Bagaimana dengan Bing Slamet? Tak banyak yang tahu secara detail sosok yang satu ini. Malah banyak yang lebih mengenal keturunannya seperti Adi Bing Slamet atau Ayudia Bing Slamet. Jauh sebelum eksistensi film dan musik di Indonesia, Bing Slamet berjuang dari nol untuk mengangkat profesi seni khususnya film, musik dan lawak. Seniman serba bisa ini berperan besar merintis bidang seni sehingga mendapat tempat di kalangan masyarakat kita. Bahkan Benyamin S. sebagai seniman besar Indonesia mengaku ia terinspirasi dengan Bing Slamet sebagai sosok yang berjasa bagi karirnya hingga pembaringan terakhirnya berada di samping makam Bing Slamet. Kaskus sebagai mega gudang informasi tak satupun thread yang dibuat kaskuser mengangkat profil Bing Slamet. Inilah yang mendasari TS membuat thread khusus untuk Bing Slamet sebagai bentuk apresiasi terhadap jasa besar “ Pahlawan Kesenian Indonesia “. Semoga thread ini bisa bermanfaat dan TS berharap para Kaskuser tahu akan jasa-jasa yang sudah ditorehkan oleh Bing Slamet.

SELAMAT MEMBACA


Tangisan bayi terdengar sesaat keluar dari rahim seorang ibu pada 27 September 1927 di Cilegon, Banten. Bayi tersebut diberi nama Ahmad Syech Albar yang kelak dikenal dengan Bing Slamet. Ayahnya seorang mantri pasar bernama Rintrik Achmad. Bing Slamet sudah ditakdirkan lahir sebagai seorang penghibur. Bahagia dan gelak tawa kelak merupakan jasa yang ditampilkan Bing dalam kesempatan apa saja termasuk menghibur para pejuang dengan berkeliling Indonesia antara kurun waktu 1942-1945. Bahkan tampil layaknya seorang agitator ketika bercuap-cuap di depan corong mikrophone radio untuk membakar heroisme para pejuang dalam melawan penjajah.

Talent Bing Slamet mulai terasah ketika bergabung dengan Orkes Terang Bulan yang dipimpin Husin Kasimun. Kemudian bergabung bersama kelompok teater Pantja Warna setahun menjelang kemerdekaan Indonesia. Kecintaannya terhadap seni semakin dalam hingga dia terpaksa mengubur asa kedua orangtuanya yang menginginkan menjadi dokter atau insinyur. Bidang seni adalah pilihan bulat yang ditempuh Bing Slamet dalam perjalanan hidupnya. Pilihan yang diambil ternyata tepat, kemampuan bermusik dan melawak semakin terasah setelah bergabung pada Divisi VI Brawidjaja sebagai Barisan Penghibur. Ia rela ditempatkan di kota mana saja termasuk di Yogjakarta dan Malang setelah bekerja di Radio Republik Indonesia (RRI).



MUSIK DAN FILM

Diakui kematangannya di dunia tarik suara terpupuk semenjak bekerja di RRI. Bing Slamet banyak mengadopsi ilmu dan pengalaman dari pemusik Iskandar dan pemusik keroncong tenar, M Sagi, serta sahabat-sahabat musikal lainnya seperti Sjaifoel Bachrie, Soetedjo, dan Ismail Marzuki. Satu nama lagi yaitu Sam Saimun yang dikenalnya sejak bertugas di Yogyakarta pada tahun 1944. Bagi Bing, Sam Saimun adalah tokoh penyanyi panutannya. Tak sedikit yang menyebut timbre vokal Bing sangat mirip dengan Sam Saimun. Di tahun 1949 titik awal Bing Slamet mulai dikenal ketika menghiasi soundtrack film Menanti Kasih yang dibesut Mohammad Said dengan bintang A Hamid Arief dan Nila Djuwita .

Tak hanya puas dengan kesuksesan di dunia tari suara, Bing mulai menguji bakat aktingnya di dunia sinema sebagai aktor sejak tahun 1950. Pada tahun 1955, Bing Slamet mulai menoreh prestasi dengan menjadi juara Bintang Radio untuk jenis Hiburan. Piringan hitam Bing pun mulai dirilis pada label Gembira Record dan Irama Record. Ia terampil menyanyikan langgam keroncong hingga pop dan jazz. Selain menyanyi, Bing pun memainkan gitar sekaligus menulis lagu. Salah satu tembang pertama yang ditulisnya bersama gitaris jazz, Dick Abell, adalah 'Cemas' .

Seiring perjalanan karir musiknya maka bermunculanlah lagu-lagu karya Bing Slamet lainnya, semisal 'Hanya Semalam', 'Risau', 'Padamu', 'Murai Kasih', hingga 'Belaian Sayang'. Lagu yang disebut terakhir dianggap sukses di mata khalayak. Masih ingatkah Anda ketika Bing Slamet menyanyikan dengan fasih lagu berbahasa Minang 'Sansaro' ? Atau dengan luwes Bing menyanyikan lagu 'Selayang Pandang' dari ranah Melayu? Tak pelak lagi, Bing adalah penyanyi serba bisa yang memiliki fleksibiltas tak tertandingi.

Di tahun 1963, pria ini membentuk sebuah grup musik yang diberi nama Eka Sapta dengan pendukungnya, antara lain Bing Slamet (gitar, perkusi, vokal), Idris Sardi (bass,biola), Lodewijk 'Ireng' Maulana (gitar, vokal), Benny Mustapha van Diest (drum), Itje Kumaunang (gitar), Darmono (vibraphone), dan Muljono (piano). Eka Sapta menjadi fokus perhatian, karena keterampilannya memainkan musik yang tengah tren pada zamannya. Eka Sapta lalu merilis sejumlah album pada label Bali Record, Canary Record, dan Metropolitan Records, yang kelak berubah menjadi Musica Studio's. Eka Sapta adalah kelompok musik pop yang terdepan di negeri ini pada era 60-an hingga awal 70-an.


Eka Sapta


Bing Slamet hebatnya mampu membagi konsentrasi antara bermain musik, menyanyi, bikin lagu, melawak, dan main film layar lebar. Setidaknya ada 20 film layar lebar yang dibintanginya, mulai dari era film hitam putih hingga berwarna. Bing pun tercatat beberapa kali membentuk grup lawak antara era 50-an hingga 70-an di antaranya Trio Los Gilos, Trio SAE, EBI, dan yang paling lama bertahan adalah Kwartet Jaya bersama Ateng, Iskak, dan Eddy Soed.


(Kiri ke kanan) Edi Soed, Bing Slamet, Ateng dan Iskak dalam Kelompok Lawak Kwartet Jaya.


BING SLAMET WAFAT



Dian bahagian kini padam sudah
Derai air mata tak putus membasah
("Risau")

Lirik lagu 'Risau' yang menggetarkan sukma, seolah selaras dengan iring-iringan mobil dan motor sepanjang 4 kilometer mengantarkan jenazahnya ke pemakaman Karet Selasa siang 18 Desember 1974. Bumi Jakarta banjir genangan air mata meratapi kepergian salah satu seniman terbaik di Indonesia. Kepergiannya begitu cepat disaat Indonesia masih membutuhkan karya-karya briliannya. Semua memang merasa kehilangan sosok seniman komplet itu. Terampil bermain gitar, berbekal suara emas. Piawai menyusun komposisi musik dan cakap dalam seni peran, termasuk melawak.

Bing Slamet adalah penghibur sejati yang sangat memahami hasrat dan keinginan penikmatnya. Simaklah untaian nada dan kata yang dipilihnya menjadi jalinan lagu yang hingga kini masih kita akrabi, meski terkadang ada jaringan yang raib antar generasi perihal eksistensi Bing Slamet. Rasanya, tak semua generasi kiwari yang mengenal sosok Bing Slamet secara utuh. Ini yang patut disayangkan.

Berita orisinil dari majalah Tempo bisa dibaca disini


PENGHARGAAN



Sebagai apresiasi atas dedikasinya di bidang seni, pada 10 Juni 1972 menerima Piagam Penghargaan dari Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin. Namun penghargaan Nasional baru diperoleh setelah 28 tahun pasca kematiannya. Di era pemerintahan Presiden Megawati Soekarno Puteri, Bing Slamet memperoleh Anugerah Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma di Istana Negara tanggal 7 November 2003. Medali dan piagam penghargaan diterima oleh putra kedua Bing Slamet, Hilmansyah.


PENERUS BING SLAMET



Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, pepatah tersebut berlaku untuk Bing Slamet. Dari 8 buah hatinya bersama Ratna Komala Furi, bakat seni Bing Slamet mengalir kepada tiga anaknya yaitu Uci, Adi dan Iyut Bing Slamet. Bahkan salah satu cucunya, Ayudhia Bing Slamet putri dari Hilman Syah juga terjun ke dunia akting sebagai pemain film dan sinetron. Hingga kini dinasti seni Bing Slamet masih mengalir seiring dengan perkembangan zaman.

1. Ratna Lusiana Albar a.k.a Uci Bing Slamet


2. Ferdinand Syah Albar a.k.a Adi Bing Slamet


3. Ratna Fairuz a.k.a Adi Bing Slamet


4. Ayudhia Bing Slamet






sumber :http://www.kaskus.us/showthread.php?t=10810804